Sholawat Asyghil

Bacaan Sholawat Asyghil Lengkap Arab, Latin dan Artinya

Bacaan Sholawat Asyghil Lengkap Arab, Latin dan Artinya
Bacaan Sholawat Asyghil Lengkap Arab, Latin dan Artinya

JAKARTA - Di tengah situasi sosial yang kadang penuh ketegangan, banyak umat Muslim mencari pegangan spiritual yang menenangkan sekaligus memberi harapan perlindungan.

 Salah satu amalan yang kerap dilantunkan di majelis istighasah, pesantren, hingga masjid-masjid adalah Sholawat Asyghil. 

Amalan ini bukan sekadar pujian kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga doa agar kezaliman tidak lagi menekan kaum lemah. Tradisi ini hidup kuat di kalangan Nahdlatul Ulama dan komunitas pesantren sebagai ikhtiar batin menghadapi realitas sosial yang keras.

Merujuk kajian “From Ritual to Resistance: Salawat Asghil in the Environmental Struggle of The Wadas Community” oleh Sakehu dkk., Sholawat Asyghil memiliki jejak historis yang lahir dari pergolakan politik. Amalan ini dinisbatkan kepada Ja'far ash-Shadiq, ulama besar yang hidup pada masa transisi Dinasti Umayyah ke Abbasiyah. 

Ia rutin melantunkannya saat qunut Subuh sebagai doa perlindungan ketika tekanan politik menguat. Dari sini tampak bahwa sholawat ini sejak awal hadir sebagai respons spiritual atas ketidakadilan.

Bacaan Sholawat Asyghil Arab Latin Artinya

Sholawat ini diabadikan dalam kitab kumpulan sholawat Al-Kawakib Al-Mudhi'ah fi Dzikr Al-Shalah 'ala Khair Al-Bariyyah karya Habib Ahmad bin Umar Al-Hinduan, sehingga dikenal pula sebagai Sholawat Habib Ahmad Al-Hinduan. Berikut bacaan lengkapnya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Latin: Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad
Artinya: Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada pemimpin kami Nabi Muhammad.

وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ
Latin: wa asyghilizh zholimin bidz zholimin
Artinya: Sibukkanlah orang-orang zalim dengan orang zalim lainnya.

وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ
Latin: wa akhrijna min bainihim salimin
Artinya: Selamatkanlah kami dari kejahatan mereka.

وَعَلَي الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Latin: wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in
Artinya: Limpahkan sholawat kepada keluarga dan para sahabat beliau.

Makna Teologis dan Analisis Linguistik

Setiap frasa Sholawat Asyghil memuat pesan teologis. Kalimat pembuka menegaskan keteladanan Nabi sebagai figur penegak keadilan. Permohonan “wa asyghiliz zholimin bidz zholimin” berangkat dari akar kata shaghala yang berarti menyibukkan atau mengalihkan, mengandung hikmah agar kezaliman berbalik menghentikan dirinya sendiri. 

Para ulama menjelaskan bahwa saat pelaku zalim disibukkan oleh konflik internal, masyarakat kecil memperoleh ruang aman untuk bernapas.

Doa “wa akhrijna min bainihim salimin” mencerminkan harapan keselamatan lahir batin agar tidak terseret pusaran konflik. Penutup sholawat dengan doa untuk keluarga dan sahabat Nabi menegaskan kesinambungan perjuangan moral dalam sejarah Islam. Rangkaian ini menjadikan Sholawat Asyghil bukan hanya bacaan ritual, melainkan refleksi etika tentang keadilan dan perlindungan.

Riwayat, Sanad, dan Penyebaran di Nusantara

Sholawat Asyghil muncul pada masa akhir Dinasti Umayyah dan awal Abbasiyah, periode penuh gejolak politik. Pencetusnya adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali Al-Murtadla, cucu Rasulullah SAW yang dikenal sebagai Ja’far ash-Shadiq. 

Ia menjadi induk sanad keilmuan bagi Abu Hanifah dan Imam Malik, lalu tersambung ke Imam Syafi’i melalui jalur keilmuan. Ini menunjukkan legitimasi keilmuan yang kuat di balik amalan tersebut.

Di Nusantara, sanad pengamalan sholawat ini dituturkan melalui kalangan pesantren. KH M. Anwar Mansur menerima ijazah Sholawat Asyghil dari KH Abdul Abbas Buntet Cirebon. Rantai transmisi ini memperlihatkan kesinambungan amalan hingga mengakar di Indonesia. Meski redaksinya bukan ma’tsurah langsung dari Nabi, para ulama sepakat kandungannya sejalan dengan Al-Qur’an dan hadis sehingga sah diamalkan.

Keutamaan dan Implementasi dalam Kehidupan

Para ulama menyebut Sholawat Asyghil sebagai benteng spiritual dari kezaliman. Amalan ini kerap dibaca saat umat berada dalam kondisi genting, sebagaimana dicatat dalam sejarah ketika Baghdad dilanda serangan Mongol. Selain itu, sholawat ini mengandung doa mustajab karena diawali pujian kepada Nabi. Mengawali doa dengan sholawat diyakini memudahkan doa diangkat.

Dalam praktik sosial, pembacaan berjamaah membangun ikatan batin komunitas, sebagaimana terlihat pada pengalaman masyarakat Wadas. Sholawat ini juga mengingatkan nilai keadilan Islam: umat didorong menolak kezaliman tanpa kekerasan. 

Secara psikologis, dzikir dan sholawat menghadirkan ketenangan hati, menahan diri dari tindakan reaktif, serta menjaga ikhtiar tetap berada di koridor etika. Dengan demikian, Sholawat Asyghil berfungsi sebagai pujian kepada Nabi sekaligus doa perlindungan yang relevan lintas zaman.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index